Kementerian Transmigrasi melalui program Ekspedisi Patriot terus menunjukkan komitmen dalam membangun kawasan transmigrasi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan. Desa Tanjung Buka menjadi salah satu lokasi strategis yang dipilih sebagai tempat implementasi program ini.
Ekspedisi Patriot hadir sebagai jawaban atas tantangan pembangunan desa transmigrasi yang selama ini sering terfragmentasi, belum sepenuhnya berbasis data, dan kurang terintegrasi dengan potensi lokal maupun kelembagaan ekonomi desa.
Pada Rabu, 17 September, Pemerintah Desa Tanjung Buka menerima kunjungan dari perwakilan tiga perguruan tinggi ternama Indonesia: Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa bersama pendamping berdiskusi dengan pemerintah desa mengenai berbagai potensi lokal, mulai dari komoditas unggulan, ekonomi, sosial budaya, hingga infrastruktur dan kebutuhan masyarakat.
Diskusi ini tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi juga merumuskan ide dan rekomendasi kebijakan, termasuk desain pembangunan kawasan transmigrasi berbasis lokal. Beberapa isu yang menjadi sorotan antara lain:
1. pengembangan komoditas unggulan,
2. industrialisasi dan hilirisasi hasil pertanian,
3. penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.
Dalam implementasi Ekspedisi Patriot, masing-masing tim perguruan tinggi membawa fokus program yang berbeda namun saling melengkapi:
Tim ITB fokus pada evaluasi kawasan transmigrasi, mencakup aspek fisik, layanan dasar, pendidikan, ekologi, hingga iklim. Selain itu, mereka melakukan pemetaan potensi pertanian, perkebunan, dan hutan, serta mengidentifikasi kebutuhan mendesak masyarakat Tanjung Buka.
Tim UI menitikberatkan pada ekologi kelembagaan desa. Mereka memperkuat peran koperasi, kelompok wanita tani (KWT), gabungan kelompok tani (Gapoktan), Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan organisasi desa lainnya, agar masyarakat mampu mengelola potensi lokal secara mandiri dan berkelanjutan.
Tim IPB berfokus pada pengembangan komoditas unggulan, khususnya sayuran, semangka, dan padi. Pendampingan mencakup teknik budidaya, diversifikasi hasil panen, hingga pemasaran dan penerapan teknologi pertanian modern.
Selanjutnya, para mahasiswa dan pendamping dijadwalkan melakukan pemetaan langsung ke lapangan di enam satuan pemukiman (unit transmigrasi) yang ada di Desa Tanjung Buka. Kegiatan ini menjadi bagian penting untuk memperoleh data faktual dan merumuskan program yang tepat sasaran.
Dengan adanya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Desa Tanjung Buka diharapkan dapat berkembang menjadi model desa transmigrasi modern. Program Ekspedisi Patriot bukan hanya membawa solusi teknis, tetapi juga semangat kebersamaan dan partisipasi aktif masyarakat dalam membangun desa yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
Pemerintah Desa Tanjung Buka menyampaikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa/mahasiswi dari Bandung, Jakarta, dan Bogor beserta para pendampingnya, serta berharap seluruh peserta betah dan mendapatkan pengalaman berharga selama berada di Desa Tanjung Buka.